“ matar, matar de toros !” teriak papuq dan bibiku. Gelap. Aku membatu. Berlarian lincah. Menggemaskan. Aku mendekatinya, ia sedikit gelisah. Ku usap kepalanya, ia diam mengerdip-kerdipkan mata sayunya manja. Itulah ucapan welcome. Beberapa saat kuhabiskan waktu, ada sesuatu menyelinap dalam kalbuku. Menyejukkan. Terus ku usap kepalanya, ia suka, lalu kusilangkan lenganku di lehernya yang berbulu kemudian berbisik di telinganya “Arjuna”. Konyol. Atau haruskah aku azan? Ah tidak mungkin itu kulakukan pada seekor sapi. Waktu terus berjalan. Di antara saudara-saudara angkatnya, para Pandawa Lima, Arjuna yang termanis. Tubuhnya ditumbuhi bulu hitam agak kasar, ia belum baligh , setelah waktunya tiba bulunya akan berkilau. Kepalanya agak dagul , di atas telinganya tumbuh sepasang benda runcing kehitaman . Tatapan matanya sayu seperti pertemuan pertama kami. Tuhan menganugerahi empat kaki kekar didekorasi warna putih mulai dari lutut sampai bawah , ...
Komentar
Posting Komentar