Matar de Toros

matar, matar de toros!” teriak papuq dan bibiku. Gelap. Aku membatu.    



Berlarian lincah. Menggemaskan. Aku mendekatinya, ia sedikit gelisah. Ku usap kepalanya, ia diam mengerdip-kerdipkan  mata sayunya manja. Itulah ucapan welcome. Beberapa saat kuhabiskan waktu, ada sesuatu menyelinap dalam kalbuku. Menyejukkan. Terus ku usap kepalanya, ia suka,  lalu kusilangkan lenganku di lehernya yang berbulu kemudian berbisik di telinganya “Arjuna”. Konyol. Atau haruskah aku azan? Ah tidak mungkin itu kulakukan pada seekor sapi.

Waktu terus berjalan. Di antara saudara-saudara angkatnya, para Pandawa Lima, Arjuna yang termanis. Tubuhnya ditumbuhi bulu hitam agak kasar, ia belum baligh, setelah waktunya tiba bulunya akan berkilau. Kepalanya agak dagul, di atas telinganya tumbuh sepasang benda runcing kehitaman . Tatapan matanya sayu seperti pertemuan pertama kami. Tuhan menganugerahi empat kaki kekar didekorasi warna putih mulai dari lutut sampai bawah, jaler. Sesuai dengan namanya, Arjuna, gagah.

Setiap melihatku, ia mendekat dan menjilat tanganku. Patuh sekali. Menurutnya akulah mahluk yang harus ia patuhi melebihi ibu kandungnya, buktinya aku tak pernah melihat ia menjilat kaki induknya. Baginya, “surga di bawah telapk kaki ibu” hanya bualan semata. Kami sering melewatkan waktu bersama di bawah rindangnya pohon mahuni setelah ia minum dan melanjutkan makannya. Pernah sekali, di tengah sawah berlumpur ia mendekatiku yang sedang mencangkul. Hei, tentu saja aku melempar cangkul, kami akan bersalaman. Si bakti Arjuna menjilat tanganku –as always-- kami ngobrol lama, terik matahari tak terasa. Kawan, sudah kukatakan saat bersamanya ada sesuatu yang menyelinap menyejukkan dalam dadaku: cinta.

Suatu ketika, aku harus pergi untuk waktu yang lama. Tiga bulan. Bukan waktu yang singkat untuk berpisah. Arjuna pasti merindukanku –aku juga. Hari-hari berat terpaksa kami harus lalui. Malam hari selalu kusempatkan menengok ia tidur di kandang dengan pulas, kadang sambil mengunyah memamah session dua rumput lezatnya tadi siang. Berat meninggalkannya.

Arjuna melihatku dari kejauhan dan melenguh panjang. Batang jambu tempat ia diikat bergoyang-goyang. Aku berlari mendekatinya, ia mengangguk-angguk kegirangan.  Seperti selalu, kuusap kepalanya dan ia menjilat tanganku.
“aku harus pergi Jun, tidak lama tenang saja” pedih, aku harus membohonginya. Ia menggosok-gosokkn kepalanya di dadaku dengan halus , sesekali ia mendengus.
“jangan nakal ya, jadi anak baik” kami saling mengadu kepala “jangan makan jagung paman juga, kalau sudah waktunya kamu pasti dapat bagian. Pasti!” aku pesan ia panjang lebar, ia melenguh panjang. Sampai ketemu kawan. Aku berjalan membelakanginya tak berani menengok. Berat meninggalkannya.

Suara tinggi paman membuyarkan lamunanku.
berembe ne? berapa kira-kira harganya. Sebentar lagi musim qurban
“mudahan mehel” sambung bibi sambil tersenyum.

                                                        ***

Angin berhembus kencang menembus daun-daun runcing semak bambu yang lebat, berlalu meninggalkannaya menuju pohon mangga lalu menggoyangnya dengan nakal. Putik-putik kecilnya yang bergelantungan riuh merengek, ada yang jatuh tak kuasa melawan hukum gravitasi. Tak puas, angin menyerbu kawanan kelapa, memaksa mereka melambaikan daun-daunnya berkepak-kepak riuh seolah bertepuk menyemangati. Setelah puas ia menyelinap diam-diam pergi ke hutan mangrove di sebelah barat.

Angin medas, berhembus dari timur pertanda musim kemarau masih panjang. Ia mimpi buruk bagi nelayan dan pelaut. Laut marah stadium akhir. Angin ini berkonspirasi seperti Amerika dan Israel, ganas tak terkira. Nelayan  yang nekad turun harus diperiksa kesehatan bathinnya, itu sama saja bunuh diri. Sekeranjang ikan tongkol dari selat Lombok yang tiada terkira kayanya hanya mimpi di siang bolong saja.

Langit sebelah barat bertransformasi menjadi kuning keemasan, lalu menyala sebentar kemudian merona: merah jingga. Sudah waktunya masuk kandang.
inaq, inaaaq…!” Bibi histeris
“hush hush….hooohhh!” ia gemetar hebat berlarian membawa sebatang kayu

Pertarungan sengit. Arjuna adu kekuatan dengan Sadewa, ia tak mau mengalah meski bertubuh lebih kecil. Kepala mereka saling membentur, tanduk-tanduk lebar mereka berdenting. Tanah sawah menganga akibat hukum alam mengempulkan debu. Semua sapi menegakkan leher berhenti mencabuti rumput. Suasana hening, tegang. Terakhir kudengar kabar tak sedap dari informan terbaikku, Papuq, dua jagoan ini memperebutkan betina. Masalah klasik!. Pertempuran tak terelakkan  itu akan menjadi pembuktian siapa yang akan menempati kasta tertinggi. Hierarki hal lumrah dalam dunia binatang.

Paman menengahi menarik kasar tali Arjuna, ia tak bergeming. Tidak suka diperlakukan kasar ia meronta, mengamuk  kesetanan. Arjuna merunduk membuka lebar sepasang tanduk runcingnya menabrak Paman, paman terjungkal ke tanah. Belum puas, Arjuna dengan bobot 200 kg  memhujamkan kepalanya ke tubuh Paman, untunglah ia berhasil mememang kedua tanduknya. Mereka beradu kekuatan. Percayalah pada saat seperti ini, kita sebagai manusia mendapatkan tenaga ajaib berkali-kali lipat, semesta mendukung. Mestakung demikian kata si Yohanes Surya. Law of attraction; the support of universe.

Sawah itu berubah menjadi plaza de toros. Gempar. Tiba-tiba semuanya terpelanting ke Andalusia, nun jauh di negeri Spanyol. Paman adalah torero sial karena kehilangan pedangnya, sekarang ia bergumul dengan de toros yang galak tak terkira. Jika ia hidup di abad-18, maka termasuklah ia pembangkang King Carlos III, pertarungan melawan banteng diharamkan masa itu.

Bibi berteriak menangis melemparkan bongkahan tanah ke perut Arjuna, itu hanya mengalihkan perhatiannya, lalu ia berbalik mengejar bibi tapi itu kesempatan bagi Paman, si matador menghindar. Trik seperti ini adalah fitrah sepasang insan yang saling mencintai. Papuq menghampiri, Arjuna berubah menjadi anak kecil yang terkena marah ibunya, diam membisu. Ia menunduk sayu dengan nafas terengah. Entah ilmu apa yang Papuq gunakan, umurnya yang sudah senior tak mampu melawan seekor banteng, sama ayam saja ia pasti kalah. Waktu aku masih kecil, aku sering berpikir ia pawang sapi. Sekali ia marah, seganas apapun sapi pasti tunduk takzim. Amazing!

Tidak ada yang memenangkan pertarungan. Perebutan tahta pejantan tangguh antara Arjuna dan Sadewa ditunda. Matador kabur dibantu sang istri, si torero sial yang bernasib baik. Tak cukup baik sebenarnya, beberapa tandukan Arjuna menyisakan lebam di dadanya dan goresan luka di punggung akibat terjungkal di tanah. Kalau berbicara skor, ia menang TKO.

Setelah semua masuk kandang, rapat mendadak dibuka. ‘’matar de toros’’ itu topik rapatnya, yang berarti bunuh bantengnya. Paman, Bibi dan Papuq setuju Arjuna dijual. Maka Bapak diutus mengabarkan berita baik ini ke juragan sapi, Tuaq Jum, ia sudah lama ingin meminang Arjuna.

Aku tak habis pikir apa yang membuat Arjuna berubah. Arjuna kecil menggemaskan tinggallah cerita. Bagai terkena kutuk Dewi Starda, ia mengamuk membabi buta. Apa aku salah memberi nama?seharusnya ia kunamakan Kumba saja. Si hitam manis yang menggemaskan dengan tatapan sayu itu telah berubah.Tatapan matanya tajam. Meski suka penampilan gagahnya sekarang, aku merindukan Arjuna kecil dulu. Nikmatilah malam terakhirmu, kawan. Besok hari goodbye-mu.


I’ll always love you, my Arjuna.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Boy