GURU
Asal muasal kata Guru dari bahasa Sanskerta yang
berarti pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru
umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Dalam
beberapa kepercayaan, guru menempati posisi lebih tinggi dari siapapun. Agama
Buddha misalnya, guru adalah pembimbing menuju kebenaran. Para murid memandang
gurunya sebagai jelmaan Buddha. Dalam agama Hindu guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang
berisi ilmu, vidya, dan juga pembagi ilmu.
Seorang guru adalah
spiritual guide bagi para muridnya. Bahkan beberapa Negara di belahan bumi
menganggap guru merupakan nabi. Oleh sebab itu, seorang guru sangat
dihormati dan terkenal di masyarakat serta menganggap guru sebagai pembimbing
untuk mendapat keselamatan dan dihormati bahkan lebih dari orang tua mereka. Bila tak berbakti pada orang tua disebut
durhaka, maka membangkang pada guru: ‘duh
neraka.
Bila
sebuah kata bisa mengalami penyempitan makna, pun sebaliknya ia juga mengalami
perluasan makna. Salah satu kata yang mengalami hal tersebut adalah guru. Suatu tempat di pulau Lombok, guru
telah dimodifikasi menjadi panggilan akrab untuk semua kalangan. Remaja,
dewasa, tua-muda tanpa terkecuali. Istimewanya, hanya lelaki saja yang mendapat
panggilan tersebut. Bagi kaum hawa ia sama seperti memukul anak pakai sendok:
tabu. Dilanggar langsung jadi kera.
Dua
puluh lima kilometer dari kota Mataram, teruslah mengikuti jalan raya ke
selatan. Sebelum sampai di pelabuhan Ferry Lembar ada pertigaan, belok kiri.
Dari situ, tidak lama lagi kawan akan sampai. Akan ada sepuluh tikungan yang
meliuk nakal. Bila dipikirkan betapa tololnya para pembuat jalan zaman dulu. Jangan
berburuk sangka, tak lain maksudnya adalah agar tidak ngebut. Demi keselamatan.
Niat tersembunyi yang suci tak terkira, kawan. Berhentilah sesudah menemukan
jembatan pertama, tepat di depan sebuah sekolah SMK Kelautan Negeri 1 Lembar.
Tempat ini bagian dari dusun Kebon Talo yang merupakan desa Labuan Tereng yang
berkecamatan Lembar: RT MERTAK. Di sinilah tinggal orang-orang yang saling
menyapa dengan kata guru. Di sini
pulalah aku dilahirkan, tanah tumpah darahku. Jadi bila ada yang melarang perluasan
makna kata Guru, aku akan berada di garis paling depan yang akan keberataan.
Kalau ada yang kurang ajar mengatakan itu sebagai sikap memperkosa bahasa, tanpa diragukan nilai bahasa Indonesianya palsu.
Sering terbayang olehku suatu saat para Bahasawan dan pembuat kamus akan
mencatat kata Guru juga berarti panggilan akrab.
Sejauh
yang kutahu, di sinilah satu-satunya tempat di muka bumi ini yang saling
menyapa begitu tanpa pandang bulu. Kalau tidak percaya, silakan cari! Dalam
satu kampung saja misalnya, dusun tetangga tidak akan menggunakan sapaan itu.
Kalau ada yang menggunakannya dapat dipastikan hanyalah ngekor atau telah mendapat ilham dari sang Mahakuasa betapa
kerennya panggilan itu. Hebat tak terkira, membanggakan. Kusimpulkan tanpa
harus meminta pertimbangan Kades, sapaan guru
itu hak tak tergugat milik RT Mertak.
Kalau
ada yang bercita-cita ingin menjadi guru lalu tak kesampaian, patutlah ia
disarankan datang ke kampungku. Tanpa ijazah sekalipun. Di sini semua tanpa
kecuali bisa menjadi guru. Kesetaraan derajat. Misalkan, Tuaq Mastur si pemanjat pohon kelapa akan dipanggil guru Tur oleh oleh guru Nas, yang tak lain seorang pencetak bata. Tuaq Iboq sepulang dari pengembaraannya di Kalimantan, dipanggil guru oleh adiknya, Sami’in yang menjabat
Kadus. Oleh karena jabatan mulia yang diembannya itu ia tak dipanggil guru Sami’in melainkan guru kadus. Hebat tak terkira!
Setelah
diperhatikan secara seksama, ternyata setelah kata guru pastilah diikuti nick name, nama panggilan bukan nama
lengkap. The nick name comes after Guru. Mahyun misalkan,
akan dipanggil guru Oyong, Muzan
menjadi guru Jon, dengan nama asli di
KTP Faizi berubah menjadi guru Jek.
Semacam struktur yang tak tertulis. Masih banyak lagi guru-guru yang lain, bila didaftar di sini akan seperti sensus
penduduk. Siapalah aku ini yang harus mendaftarnya, itu pekerjaan staf desa.
Di
kalangan remaja, panggilan ini tak kalah populer. Guru Adi misalnya, yang memang
tulen guru bahasa Inggris, dan Wahyu guru olahraga dipanggil guru bukan karena profesinya melainkan panggilan
akrab banjar gubug RT Mertak. Hal
yang mengesankan, panggilan guru seperti
wajib disampaikan oleh yang muda kepada yang lebih tua, akan ganjal rasanya
bila tidak. Sedangkan yang lebih tua bebas, menaruhkan gelar itu atau tidak
kepada yang lebih muda. Ini memang ada kaitannya dengan kearifan tata krama
lokal khususnya, nasional pada umumnya.
Meski
tidak sefardhu ‘ain guru dewasa untuk
wajib saling memanggil gelar tersebut, para remaja tetap latihan saling
memanggil begitu kepada teman sebayanya. Sebuah persiapan regenerasi yang
besar. Si Kordy, Ferly, Dian, Thoriq, Ulil, Jahar, Yudi dan lain-lain
–berhubung populasi remaja Mertak tak bisa dihitung jari, ini sampel saja. Guru Sikor panggilan untuk Kordy, guru Pecok untuk Ferly, guru Umblus buat Dian, guru Bahdok untuk Yudi, Jahar menjadi guru Jotong, Thoriq jadi guru Oyiq dan guru Ulil jadi guru Jiah. Sangat melenceng jauh dari
nama asli, menjadi sedemikian rupa tak lain bermula dari olok-olokan yang ahirnya
dinobatkan melekat kekal.
Guru
Owan, adiknya guru Dan berkelakar “selapuq
jari guru, ndekne araq ja’te ajah”. Semua sudah menjadi guru, jadi tidak
ada yang harus diajar.
Bila
dipikirkan secara mendalam, setiap orang adalah guru, pemberi pelajaran buat
yang lainnya. Hanya perlu merubah paradigma kita selama ini. Mindset guru adalah orang yang
berprilaku baik dan menjadi panutan memang sepenuhnya benar tapi cobalah
membuka mata, orang yang berprilaku tidak baik juga telah menjadi guru buat
kita. Mereka mencontohi kita hal yang tidak patut ditiru. Jadikan setiap orang
guru, teladani kebaikannya dan jangan mencontoh kejelekannya.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar