Peluru
          Aku ingin kembali ke masa kecil.

Membaca sebuah novel yang beberapa hari lalu kubeli dan memandangi hamparan sawah nan hijau membuatku rindu masa-masa itu. Sesekali angin berhembus pelan. Sopan dan canggung, sepoi-sepoi. Aroma keringat yang didihkan terik matahari samar tercium. Sebentar lagi bulir-bulir padi akan bermunculan. Kawanan burung pipit juga akan segera mengungsi memenuhi angkasa dengan cicit yang ribut. Semua pepohonan akan segera menjadi tempat tinggal mereka. Kawin, kerjasama membuat sarang, beranak-pinak lalu hidup bahagia dengan anak-anak yang banyak dan lucu. Tak mau tahu dari mana mereka akan menghidupinya.  Tuhan Maha Pemurah. Pemahaman ini mungkin sudah tertancap dalam benak mereka tentang rezeki. Betapa mulia para petani, bukan hanya para khalifah di muka bumi ini saja yang dihidupinya, tapi burung-burungpun mereka nafkahi. Hal ini seharusnya dipahami secara mendalam oleh Menteri Pertanian dan Pangan.  Apa sangkut-pautnya? Mana kutahu, aku kan hanya anak petani saja.

Aku ingat waktu berburu burung pipit –sebenarnya ini adalah amanah untuk menembaki kawanan mereka karena merampok padi para petani. Padi ayah dan pamanku. Dengan ketapel yang selalu kukalungkan, aku lebih merasa seperti Chris Kyle di American Sniper, atau Bob Lee Swagger yang dibintangi Mark Wahlberg dalam pelem Shooter yang diadopsi dari sebuah novel yang ditulis oleh Stephen Hunter berjudul Point of Impact. Aku selalu terobsesi dengan hal tembak-menembak. Khususnya tembakan jarak jauh. Bukan di poin membunuhnya, tapi dari segi sains dan intelegensia. Dengan alat Mil-Dot Reticle –menyebutnya saja aku sudah merasa sesak –target bisa ditembak dari jarak seribu meter dengan kecepatan 1.019 m/dt. Belum sempat si sniper menurunkan senapan malaikat Izrail sudah bekerja. Dor! Innalillahi. Untuk menjadi sniper harus pintar Matematika dan Fisika, minimal nilai di rapor 8,9 untuk kedua mata pelajaran tersebut –yang sampai SMA adalah sebuah keniscayaan bagiku—atau sampai kapanpun. Ilmu pasti tak sudi bersahabat denganku yang tak suka batasan. Dua tambah dua adalah empat. Aku tak suka itu, aku maunya lima, enam atau sepuluh. Imajinasiku tak terborgol, ia bersayap siang dan malam. Imagination is more important than knowledge, si Einstein yang pernah kabur ketakutan diburu Hitler berkata demikian. Terima kasih, Pak, aku merasa didukung.

Aku tak faham kenapa tiba-tiba aku berada di bebaleq ini. Bukankah beberapa waktu lalu aku di tempat tidurku –yang hanya semalam saja kunikmati dalam seminggu. Ah, kasur kost tak seempuk kasur di rumah. Aku ingat. Bukan kasur empuk itu yang membuatku keluar rumah, kegiatan yang kulakukan di atasnya yang membuatku merasa gerah: facebookan. Panas. Aku terbakar. Gemetar. Beberapa waktu ini memang aku memiliki kecenderungan seperti ini. Gejala demam tak jelas, kata dokter yang sok tahu. Hai, mari kupersingkat saja. Aku cemburu. Terbakar cemburu.

Hujan turun mengguyur bumi. Padi-padi terseyum ceria. Air dari langit seolah kesal ingin mengusir awan gelap sedari tadi siang. Ia akan melampiaskan semuanya sampai tak tersisa. Oh, picik sekali pikiranku tentang hujan. Seharusnya begini: Tuhan memerintahkan sang Mentari mendidihkan samudera, lalu uap-uap kecil terangkat ke udara membentuk mendung sampai si Tuan Awan kewalahan menahannya,  lalu diturunkanlah Rahmat Alloh ini untuk semua umat-Nya –baik yang rajin solat dan lalai. Dialah Tuhan semesta alam.

Hujan membuatku mengantuk. Aku berbaring dengan bantal novel. Jadikan buku sebagai bantal biar kita pintar, semua ilmu itu akan terserap oleh kepala sewaktu kita tak sadarkan diri. Ini petuah kudapatkan sewaktu mondok dulu, yang belakangan kutahu bahwa itu adalah propaganda bagi santri seperti kami yang baru seminggu di pondok sudah dirampok habisan-habisan oleh kakak tingkat, termasuklah harta karun seperti bantal menjadi sasaran empuk mereka. Pikiranku tak bisa tenang meski berbantalkan ilmu. Berbagai macam slide begiliran tampil di kepalaku. Seorang gadis cantik dengan senyum yang tak bisa kucari tandingannya. Mata kecil yang menunduk sewaktu kupandang dengan bulu-bulu tajam yang tanpa kompromi menusuk-nusuk jantungku. Wajah risau penuh misteri setiap kali kami bertemu. Apakah risau itu karena selalu saja hujan? Tiga kali hujan kami lewati dari beberapa kali kami bertemu. Hujan yang syahdu. Mengharu biru. Bagiku begitu. Apakah dia merasakan hal yang sama?

****

Delapan peluru. Iya, hanya dengan delapan peluru saja, yang jika disusun bisa membentuk sebuah nama. Nama yang jika tanpa sengaja  terdengar akan membuatku terbangun meski aku sedang tidur lelap. Meski itu tidur setelah seminggu begadang sekalipun. Nama yang jika disebut akan menggetarkan hatiku. Nama yang jika disebut aku bergelora. Nama yang pemiliknya ingin kujadikan alasan kenapa aku terlahir ke dunia ini. Nama yang pemiliknya ingin kulihat terakhir kali sewaktu tidur dengan senyuman, dan pertama kali sewaktu bangun dengan tertawa. Nama yang pemiliknya adalah satu-satunya jawanbanku jika ditanyai apa definisi dan resolusi cinta menurutku. Bolehlah ini menjadi referensi teori di sebuah skripsi jika ada mahasiswa sinting  meneliti tentang kekuatan cinta. Mungkin dengan judul begini: Pengaruh Sebuah Nama di Dalam Cinta.

Huruf pertama. Ambillah tiga peluru, letakkan dengan arah lurus ke depan satu peluru. Posisi sama lurusnya juga buat peluru lainnya, kemudian letakan ujung dan pangkal peluru lainnya di kedua peluru yang lurus tadi. Pahamkah engkau? Aku sengaja mendeskripsikan ini dengan sulit. Begini saja, bentuklah huruf Z tebalik dengan tiga peluru. Bisa? Dasar tak becus, Kalau tidak bisa, tolaklah orangtuamu dengan keras ketika menyuruhmu menjadi polisi, seperti aku dan adikku tak terima ketika paman mau membiayaiku masuk polisi. Terima kasih! Huruf kedua, berdirikan satu peluru. Tegak. Huruf ketiga, dua peluru saja. Dirikan satu peluru lalu tengkurapkan peluru lainnya tepat di ujung peluru yang berdiri tegak tadi. Huruf keempat sama dengan huruf ketiga. Sudah bisakah kau membacanya sekarang? Itu nama yang jika aku disuruh melupakannya, jelas aku tak mau! Mana mungkin. Bunuh saja aku.

Sulit kuakui itu adalah sebuah hal yang kreatif. Sekereatif nama gang menuju kostku. Jalan Adi Sucipto, gang Kreatif tepatnya. Terlalu berat hatiku mengapresiasinya. Jangan membuatku kesal dengan sebuah pertanyaan kenapa? Karena yang membuatnya bukan sahabat atau temanku. Itu jawabanku! Atau seandainya saja yang dia buat adalah nama lain, maka akan kukirimi Mark Zukenberg sebuah surat permohonan agar dia menitahkan semua umat Facebook menjempoli peluru yang membentuk sebuah nama itu. Nama yang aku rela tertembus, jangankan delapan, sejuta seratus ribu sepuluh butir peluru sekalipun. Apakah aku akan mati? Hai, aku tak kebal. Tapi biarlah aku mati dengan harum mewangi membela harkat martabatku sebagai lelaki yang tak gampang menyerah untuk cintanya. Seperti film saja. Sesukakulah!

Bila dia membentuk nama dengan peluru, lalu aku apa? Bambu runcing? Atau ketapel? Tiba-tiba aku benci ketapel. Beledok? Mainan masa kecilku ini tiba-tiba memunculkan diri dalam benakku ingin ikut membela. Tidak, tidak. Aku tak akan melawan hal sepele seperti ini. Dengan berkali-kali kuyakinkan diri bahwa ini adalah hal konyol. Sangat konyol. Oh, betapa cinta membuat kita senewen.

Delapan peluru itu memang membuatku tak karuan. Tapi tak membuatku sedikitpun surut. Selangkahpun. Ada sebuah karya yang membuat syaraf keseimbangan di otakku sedikit lecet. Sebuah  puisi . Puisi yang membuatku hampir lupa cara bernapas. Begini bunyinya—tak kukurangi sehrufpun dengan tanda baca yang sama dengan yang ditulis perempuan yang sangat kusayangi itu.

kni drimu yg slalu brtahta d bnak q., dan q kan mengiringi bersama d setiap lankah mu..,

          Puisi yang membuatku dilema bila ditanyai apakah indah atau tidak ini  diposting sekitar sejam setelah waktu Isya’ di malam Minggu, 13 hari sebelum aku naik gunung Rinjani. Sayang itu bukan untukkku, sama sekali bukan. Itu untuk lelaki yang telah menyusun namanya dengan rapi menggunakan delapan peluru.

 Peluru-peluru itu kini tiba-tiba  meluncur deras ke arah dua tempurung lututku, satu di kiri dan satu di kanan. Satu peluru tertancap di mata kiriku. Dua peluru beruntun ke jantungku, aku mengerang, darah mengalir deras. Empat peluru bersarang di otakku. Aku pusing, berat sekali.

Allahuakbar Allahuakbar…

Azan magrib berkumandang. Aku terlonjak. Ah, tahun berapa sekarang? Sudah berapa lama aku tertidur? Puisi itu diposting 15 hari sebelum Indonesia merayakan HUT kemerdekaan di tahun 2014. Satu setengah tahun yang lau, kurang-lebih. Kenapa masih saja aku cemburu? Sakit sekali rasanya. Pedih.

Aku tak bisa menandidingi lelaki itu membuat nama dari susunan peluru. Aku bukan polisi. Serpihan peluru saja aku tak punya. Tapi aku sudah temukan cara meredam ketakmampuanku itu. Aku punya 17 peluru kasat mata yang dengan kehendakNya akan lebih dahsyat dari nuklir manapun. Dua Kuluncurkan di pagi buta, sebelum matahari terbit. Empat di siang bolong. Empat lagi di sore hari. Tiga setelah matahari terbenam. Empat di malam harinya.

Hanya kepadamu aku bisa jatuh cinta.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Boy

Matar de Toros