kisah terbengkalai
Catatan untuk sahabatku: seiring waktu berjalan, hidup memaksa kita memerankan ceritanya. Tak selalu bersama seperti masa dulu ketika satu bantal bersama sepiring nasi berdua tak akan hapuskan kisah-kisah kita.
Dulu, kita sering membuat berbagai macam deskripsi gila tentang kopi dan rokok. Dua hal yg telah menjadi teman sekaligus saksi malam-malam panjang yg berujung tiba-tiba siang --kadang sore. Patutlah ustad dan dokter tak pernah mau berkawan dengan kita, janganlah kau heran. 'merokok membahayakan kesehatan' kata dokter, hanya kata yg masuk kuping kanan keluar kuping kiri saja bagi kita. Merokok dilarang ustad juga sama, aih tidakkah kau curiga batuk khotib Jum'at kita hasil dari 2.2 MG nikotin? Sudahlah.
Aku yakin seyakin tahun baru jatuh tggl 1 januari, kau tak akan lupa tragedi senam subuh penghilang ngantuk itu, ah omelan bapak diringi wajah ummi tak mau membela saja sudah menghilangkan ngantukku. Tak tersisa.
Musim mangga sudah berlalu. Musim yg selalu membuatku merinding bila melihat buah terlalu rimbun di dahan yg kecil --mencurigakan-- bahkan kelelawar saja bisa jatuh. Oh, tidak mungkin aku membongkar rahasia mangga sekarung yg nyaris membuatku dilarikan ke tempat urut paling sohor.
Bat Room? Miris aku membayangkannya. Gelak tawa dengan berjuta cerita tak kelar-kelar kita di dalamnya kini diambil alih sekampung kecoak, laba-laba yg kurang ajar memasang jalanya di mana mana seenak perut, aku yakin tikuspun tak ketinggalan ambil bagian. Aku tak mau banyak bicara: kapan kita merembutnya kembali?
Bila kau rindu, kutunggu dengan segelas kopi dua batang rokok.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar