Tulah Game

Beberapa minggu terakhir ini aku rajin main game di Facebook, criminal case. Asyik. didukung aku menghayatinya. Memecahkan kasus demi kasus, bermitra dengan detektif handal lainnya, yang teman facebook juga. Maka tak heran melotot di depan laptop seperti Sherlock Holmes sampai mata bengkak tak peduli.

Permainan ini membawa tulah. Game dunia maya itu membuat karma di kehidupan nyataku. HPku hilang. Sehari yang lalu, ia hilang bagai ditelan bumi sewaktu memberi makan si Jokowi dan JK, dua ekor sapiku itu. Kenapa namanya keren begitu? lain kali akan ku ceritakan kawan, panjang ceritanya.

Mendapat ilham dari criminal case, aku pulang cari bantuan, mitra, begitu istilah kerennya. Ada tiga pilihan mitra yang siap: papuq, bibi dan adikku. Menghadap papuq tentu saja itu tindakan awal. Senior soalnya. Langsung ia meminta laporan. Laporannya sebagai berikut;

TKP: kebun dekat ladang inaq ilok, tepatnya di bawah pohon mangga
WAKTU: jam 14.30 WITA, kamis 24 juli 2014.

Aku laporkan juga bahwa aku sudah sejam berkutik mencarinya.

Papuq berpikir keras, dahinya mengkerut --memang sudah kerut. Aku duduk diam harap cemas. ahirnya ia buka suara "ye teseboq siq jin" ah apa? "lekan laeq lueq jin tono" dengan logat Gerung Perigi kentalnya ia menjelaskan. Terima kasih!

Kawan, kalau saja nenekku itu pernah duduk di bangku SD dan tau baca-tulis, akan kujelaskan panjang lebar kali tinggi tentang pemahamanku tentang alam gaib. Itu jin miskin sekali sampai HP begitu saja diambil. Tapi mungkin memang di mata papuk, aku ini adalah cucu kecilnya yang akan takut dengan hanya kata 'jin' saja. Ia memang tak pernah anggap cucunya tumbuh dewasa. Padahal kami, cucu-cucunya sekarang berkumis dan berjenggot. Aku cucu paling manis katanya waktu kecil --padahal sampai sekarang.

Mitra selanjutnya sedang sibuk memasak, ketus ia malah menyalahkanku bawa HP pergi ngawis, jadi peternak saja gaya katanya. kawan, maklumi saja bibiku memang belum paham tentang konsep think globally. ia tak mengerti dengan hape itu kita bisa menghibur diri dengan update status di facebook: aq lg sh0ping di m4ll neeh. padahal megap-megap kepanasan sabit rumput. Ini kebohongan public yang tak perlu detektif manapun untuk mengungkapnya.

Mitra ketiga sedang tertidur, tidur di bulan puasa tetap dihitung ibadah dalihnya kalau disalahkan. Silakan!. tanpa suara dengan mata masih terpejam ia menyodorkan HP-nya, aku paham. Berulang kali kuhubungi nomor yang bahkan kalau aku amnesia akan tetap menghapalnya, enam tahun aku telah menghabiskan waktu bersamanya. Sejak kumisku setipis kumis Ikke Nurjanah sampai selebat kumis Opie Kumis. Kumis beracun!

Tanpa pasrah aku terus menghubungi. Pesimistik tak lebih daripada sikap takbur mendahului nasib, begitu kata abang Andrea. Pasti ketemu, aku optimis. Tetap saja nomorku dijawab cewek dengan suara dan nada yang sama, begitu terus sampai kiamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Boy

Matar de Toros